Contoh makalah, karya tulis tentang obyek wisata di yogyakarta

Contoh makalah, karya tulis tentang obyek wisata di yogyakarta

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Yogyakarta adalah tempat obyek wisata yang tidak asing lagi dimata orang ataupun di berbagai manca Negara. Disitu banyak berbagai tempat-tempat obyek pariwisata yang sangat penting, bersejarah dan mempunyai keunikan tersendiri dengan ciri khasnya masing-masing Tempat-tempat obyek pariwisata tersebut misalnya : Candi Borobudur, Museum Yogyakarta, Kebun Binatang Gembiraloka, Malioboro.
Hal-hal yang melatar belakangi pembuatan karya tulis ini adalah :
1.    Tugas dari guru yang bersangkutan.
2.    Penulis ingin memperluas pengetahuan tentang Obyek Wisata di Yogyakarta.
3.    Penulis ingin mengetahui keindahan tempat pariwisata Yogyakarta secara langsung.
4.    Penulis ingin mengetahui letak-letak tempat pariwisata Yogyakarta.

B.    Tujuan
Setiap penulisan sesuatu pasti mempunyai tujuan tertentu, dengan demikian juga penulisan laporan karya tulis ini penulis mempunyai tujuan :
1.    Meningkatkan pengetahuan penulis mengenai obyek wisata di Yogyakarta.
2.    Mengetahui lebih dalam mengenai objek wisata di Yogyakarta secara langsung dari sumbernya.
3.    Mengetahui dan melihat secara langsung objek wisata yang ada di Yogyakarta bukan hanya membaca dan melihatnya di berbagai media elektronik maupun cetak.

C.    Waktu dan Tempat
Kami mengunjungi objek-objek wisata yang ada di Yogyakarta pada tanggal 9 Januari 2013,
Peserta        : Siswa-siswi kelas 8 dan guru pembimbing
Pembiayaan    : 325.000 / siswa (sumber dana dari siswa)
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Letak Geografis Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat Provinsi di Indonesia yang meliputi Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini terdiri atas satu kota dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 memiliki jumlah penduduk 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki dan 1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per km2.
Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu panjang menyebabkan sering terjadinya penyingkatan nomenkaltur menjadi DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa ini sering diidentikkan dengan kota Yogyakarta sehingga secara kurang tepat disebut dengan Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta. Walaupun memiliki luas terkecil kedua setelah Provinsi DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal di tingkat nasional dan internasional. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tempat tujuan wisata andalan setelah Provinsi Bali. Selain itu Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah terparah akibat bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 dan erupsi Gunung Merapi pada medio Oktober-November 2010.

B.    Candi Borobudur
Siapa yang belum pernah mendengar tentang Candi Borobudur? Kemegahan, keindahan, serta keunikannya telah membuat Candi yang dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 – 842 M ini dikukuhkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan pada tahun 1991 ditetapkan oleh UNESCO di dalam Daftar Peninggalan Sejarah Dunia (World Wonder Heritages).
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekitar 40 km sebelah barat laut Jogjakarta, 7 km arah selatan Kota Magelang, dan 100 km sebelah barat daya Semarang.
Candi Borobudur pernah terkubur oleh lahar dingin letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar tahun 950 M dan baru ditemukan pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia. Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro, Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa (Raffles juga menulis buku History of Java, 1817), maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Pemugaran pertama langsung dilakukan oleh Raffles, yaitu mulai menebangi pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali. Candi ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda dan terus dilanjutkan setelah Indonesia merdeka oleh pemerintah Republik Indonesia dengan bantuan dari UNESCO. Seluruh proses pemugaran selesai pada tahun 1984.
 Banyak orang di seluruh dunia menjadikan Candi Borobudur sebagai tempat yang wajib dikunjungi dalam hidupnya. Banyak teori yang berusaha menjelaskan asal kata Borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa kata Borobudur berasal dari kata bara dan budur. Bara/vihara artinya kompleks candi dan budur atau beduhur artinya di atas atau bukit. Jadi, borobudur bisa diartikan sebagai kompleks candi yang berada di atas bukit.
Luas bangunan Candi Borobudur adalah 123 x 123 m dengan tinggi bangunan 34,5 m dan memiliki 1460 relief, 504 Arca Buddha, serta 72 stupa. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat (melambangkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha). 10 tingkat tersebut terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar, dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya.
Candi Borobudur dibangun sebagai perlambang dari banyak tahapan di dalam teori Budha. Jika dilihat dari atas, Candi Borobudur berbentuk mandala (bentuk tradisional Budha). Mandala adalah pusat dari gabungan antara seni Budha dan Hindu. Bentuk dasar dari banyak mandala Hindu dan Budha adalah persegi dengan empat titik masuk dan titik pusat yang melingkar. Baik dari segi eksterior maupun interior, Candi Borobudur melambangkan tiga zona tingkat kesadaran ditambah satu bidang utama yang menggambarkan kesempurnaan atau nirvana.
Zona pertama adalah Kamadhatu atau dunia fenomena, dunia yang dihuni oleh kebanyakan orang, yang bisa juga diartikan dengan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Tingkat paling bawah Candi Borobudur ini tertutup oleh pondasi penyokong bangunan, sehingga tidak terlihat. Zona Kamadhatu yang tersembunyi ini terdiri dari 160 relief yang menggambarkan kisah Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Relief-relief di sini menggambarkan hawa nafsu manusia, seperti perampokan, pembunuhan, penyiksaan, dan penistaan. Beberapa bukti menunjukkan bahwa tingkat dasar ini ditambahkan pada bangunan asli candi ini. Alasan penambahan bagian ini tidak 100 % pasti, namun sepertinya untuk stabilitas struktur bangunan dan memperkuat pondasi bangunan atau bisa juga karena alasan religius, yaitu untuk lebih banyak menutupi konten-konten cabul. Bagian tambahan ini tingginya 3.6 m dan lebarnya 6.5 m. Sudut bagian bawah yang tertutup ini telah dibuka secara permanen sehingga pengunjung dapat melihat pondasi yang tersembunyi termasuk beberapa reliefnya.
Zona 2 Rupadhatu atau dunia transisi, di mana manusia telah terbebas dari hal-hal duniawi, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Teras persegi Rupadhatu berisi galeri relief batu pahat, juga rangkaian ceruk yang berisi patung Budha. Secara keseluruhan, terdapat 328 patung Budha di dalam zona yang juga memiliki banyak relief dengan hiasan murni ini. Manuskrip berbahasa Sansekerta digambarkan di dalam zona ini melalui 1300 reliefnya, yaitu Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Relief-relief tersebut berjejer sepanjang 2,5 km. Pada zona ini juga terdapat 1212 panel dekoratif.
Zona 3 Arupadhatu atau dunia tertinggi, tempat tinggal para dewa. Tiga teras yang melingkar ke arah pusat atau kubah stupa menggambarkan kenaikan ke dunia atas. Teras-teras di sini memiliki ornamen yang lebih sedikit, dan lebih mengutamakan kemurnian bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah terbebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Total, ada 72 stupa seperti ini. Tingkat paling tinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos

C.    Museum Dirgantara
Lokasi Museum berada di Jl. Kolonel Sugiyono komplek Landasan Udara Adisutjipto Yogyakarta, 10 km kearah timur dari pusat kota atau sebelah timur jembatan laying janti. Museum ini lebih dikenal dengan nama Museum Dirgantara. Museum ini menempati area seluas kurang lebih 5 Ha dengan luas bangunan sebesar 7.600 m2. Museum ini merupakan museum terbesar dan paling lengkap koleksinya yang mengiungkap sejarah keberadaan TNI AU di Indonesia.
Museum ini awal mulanya berada di Markas Komando Udara V, di Jl. Tanah Abang  Bukit Jakarta dan telah diresmikan pada tanggal 4 April 1969 oleh Panglima Angkatan Udara Roesmin Noerjadin, namun menilik Yogyakarta mempunyai peranan begitu penting terhadap perkembangan TNI AU terlebih menjadi pusat latihan bagi para taruna Akademi Udara atau kawah candradimuka maka Museum Pusat TNI AU ini dipindahkan ke Yogyakarta digabung dengan Museum Ksatrian  AAU (Akadewmi Angkatan Udara).  Dan pada tanggal 29 juni 1978 bertepatan dengan Peringatan Hari Bhakti TNI AU Museum ini diresmikan oleh Marsekal Ashadi Tjahjadi menjadi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Museum DirgantaraDari waktu ke waktu koleksi museum ini bertambah dan membuat ruangan museum tidak memadai lagi untuk menyiompan koleksi koleksi tersebut maka museum kemudian dipindahkan lagi ke Gudang bekas pabrik gula di Woonocatur yang masih berada dalam kawasan Landasan Udara Adisutjipto. Gudang ini dulunya pada saat zaman Jepan digunakan sebagai hangar pesawat dan gudang senjata. Peresmian tempat yang baru ini dilakukan oleh Kepala Staff TNI AU , Marsekal TNI Sukardi pada tanggal 29 Juli 1984.
Koleksi Museum saat ini sudah mencapai ribuan, diantaranya alutsista (alat Utama Sistem Senjata) dengan banyak ragam, puluhan model pesawat, radio pemancar dan radar, model pakaian dinas TNI AU, Diorama dan masih banyak koleksi foto maupun prasasti yang lain. Memasuki halam museum kita akan disambut oleh Pesawat tempur A4-E Skyhawk yang dipajang didepan gedung Museum, ini merupakan koleksi terbaru dari museum ini. Jenis pesawat ini dimiliki TNI AU sebanyak 37 unit hingga tahun 2003, yang kemudian beberapa digantikan oleh jenis pesawat Sukhoi type Su-27SK dan Su-30MK.
Begitu banyaknya koleksi Museum ini maka koleksi Museum ini dikelompokkan dalam tujuh ruangan yang berbeda yakni Ruangan Utama, Ruang Kronologi I, Ruang KMuseum Dirgantararonologi II, Ruang Alutsista, Ruang Paskhas, Ruang Diorama, dan Ruang Minat Dirgantara.
Begitu memasuki Gedung Museum terdapat 4 patung tokoh perintis TNI AU yakni, Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma dan Marsekal Muda Anumerta Iswahjudi. Selanjutnya Diruangan Kronologi I anda dapat menyaksikan foto serta informasi mengenai pembentukan Angkatan Udara Indonesia. Diantaranya penerbangan perdana pesawat merah putih tanggal 27 Oktober 1945, pembentukan sekolah penerbangan yang pertama di Maguwo tanggal 7 nopember 1945 yang dipimpin A. Adisutjipto, Operasi Seroja, pembentukan TRI Angkatan Udara dan masih banyak koleksi lainnya.  Ruangan Selanjutnya yakni Ruang Paskhas berisi tentang beberapa Pakaian dinas yang dikenakan TNI AU, baik pakaian tempur, Dinas harian ataupun pakain tugas penerbangan.

Ruangan berikut dan paling mengesankan adalah ruang alutsista dimana ditunjukkan beberapa pesawat yang pernah digunakan TNI AU diantaranya Pesawat Mustang P51 buatan Amerika yang sangat tekenal, ada juga pesawat buatan inggris vampire type DH-115 yang merupakan pesawat jet pertama yang diterbangkan oleh Letnan Udara I Leo Wattimena pada tahun 1956. Dan yang paling penting adalah replika pesawat Dakota C-47 yang ditembak oleh Belanda di Daerah Ngotho yang menewaskan perintis TNI Angkatan Udara kita.
Museum ini dibuka setiap hari kecuali Hari Senin dan hari libur Nasional Tutup. Pada hari Minggu sampai kamis pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB  sedangkan hari Jum’at sampai dengan sabtu dibuka mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB. Harga tiket yang diberlakukan untuk mengunjungi tempat ini ditetapkan sebesar Rp. 3.000,- per orang

D.    Kebun Binatang Gembiraloka
Kebun binatang yang dikenal dengan nama Gembiraloka ini merupakan kebun binatang satu-satunya yang ada di Kota Yogyakarta. Kendati berlaku sebagai kebun binatang, Gembiraloka masih tergolong sebagai sebuah museum, yang masuk dalam kategori zoologicum museum atau museum satwa, juga termasuk jenis museum khusus. Bila dilihat dari sisi sejarah kemunculannya, ia merupakan museum tertua kedua di Yogyakarta setelah Museum Sonobudoyo.
Pada tahun 1933, ide pembangunan kebun binatang yang berada di daerah Kali Gajah Wong ini muncul dari sang raja Mataram, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Sang Sultan mendambakan tempat wisata atau hiburan bagi rakyat berupa kebun raya (kebun rojo). Kemudian, ide ini beliau konsultasikan kepada seorang arsitek berkebangsaan Austria bernama Kohler. Meski demikian, gagasan tentang pendirian kebun binatang ini baru dapat direalisasikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Ir. Karsten pada tahun 1953. Dan, di tahun itu pula Kebun Binatang Gembiraloka yang dikelola oleh Yayasan Gembiraloka ini diresmikan oleh Sultan sendiri, tepatnya tanggal 10 November 1953. Ketika itu, yayasan ini dikepalai oleh Sri Paduka Paku Alam VIII.
Pada perkembangannya, kebun binatang ini tercatat telah beberapa kali berganti pengelola karena berbagai alasan manajerial. Kendati Gembiraloka mengalami pasang-surut, kebun binatang ini tetap menjadi salah satu objek pariwisata andalan di Yogyakarta. Data dari Dinas Pariwisata DIY selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa Gembiraloka memiliki jumlah pengunjung di atas Museum dan Monumen Jogja Kembali per tahunnya. Kuantitas pengunjung di Gembiraloka ini hanya bisa dikalahkan oleh jumlah pengunjung Keraton Yogyakarta dan kawasan Malioboro.
Tidak seperti kebun binatang pada umumnya yang hanya menampilkan satwa ‘biasa‘ maupun langka dalam display berupa kandang berjeruji besi atau berpagar kayu, Gembiraloka juga menyajikan awetan-awetan kering beberapa binatang di dalam sebuah ruangan khusus yang menyerupai museum. Museum yang menyuguhkan awetan-awetan binatang ini berada di tepi danau buatan di area kebun binatang. Tak hanya bangunan khusus awetan, Gembiraloka pada tahun 2007 telah membangun sebuah laboratorium alam flora dan fauna sebagai media pembelajaran bagi masyarakat, utamanya anak-anak. Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati berbagai jenis serangga dan satwa bertulang belakang (vertebrata) maupun tidak (avertebrata).
Kawasan kebun binatang yang telah berusia lebih dari setengah abad ini dilengkapi taman yang permai lantaran masih dihiasi dengan berbagai pohon tua yang besar dan rindang, juga tanaman-tanaman bunga yang indah dipandang. Sebagai arboetorium, Gembiraloka menyediakan lahan budidaya tanaman hutan yang dibiarkan tumbuh dan juga lahan persemaiannya. Berbagai tanaman ini memang tidak ditata rapih seperti kebun binatang pada umumnya dengan tujuan menampilkan suasana yang ‘alami‘.
Bagi wisatawan yang mengajak putra-putrinya, selain memperoleh pengetahuan nyata tentang berbagai fauna dan flora, di lingkungan kebun binatang tersedia kapal wisata menyerupai angsa yang dikayuh (biasa disebut genjot bebek). Bagi pengunjung yang belum pernah naik gajah, pengelola Gembiraloka menyediakan wahana rekreasi yang istimewa berupa jalan-jalan mengelilingi kebun binatang dengan gajah yang sudah jinak. Selain gajah, pengunjung juga dapat menunggangi unta. Lebih dari itu, taman bermain untuk anak-anak dan sebuah gua replika juga tersedia sebagai asesori pendukung kebun binatang.
Gembiraloka beralamat di Jalan Kusumanegara, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kebun binatang ini berjarak sekitar empat kilometer dari Terminal Penumpang Yogyakarta (TPY) di Giwangan, Kota Yogyakarta. Atau, jika dari pusat kota, yakni kawasan Malioboro atau Keraton Yogyakarta, berjarak sekitar enam kilometer.

E.    Malioboro
Malioboro membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.
Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti "karangan bunga" menjadi dasar penamaan jalan tersebut.
Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub ( PSK ) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.
Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor ( arcade ). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu ( gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya ) juga blangkon ( topi khas Jawa / Jogja ) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separuhnya.
Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang - barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang - barang unik dengan harga yang lebih murah.
Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.
Di penghujung jalan "karangan bunga" ini, wisatawan dapat mampir sebentar di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Benteng ini dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton. Seperti lazimnya setiap benteng, tempat yang dibangun tahun 1765 ini berbentuk tembok tinggi persegi melingkari areal di dalamnya dengan menara pemantau di empat penjurunya yang digunakan sebagai tempat patroli.
Sedangkan Gedung Agung yang terletak di depannya pernah menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Selain itu sempat menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta.
Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu - lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.
Bagi para wisatawan yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar. Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan "Museum Hidup Kebudayaan Jawa", terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata.























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat Provinsi di Indonesia yang meliputi Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia.
Yogyakarta banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Beberapa objek wisata di Yogyakarta yang sering dikunjungi oleh para wisatawan diantaranya Museum Dirgantara, Kebun Binatang Gembiraloka,Malioboro, dan Candi Borobudur. Meski Candi Borobudur berada di luar daerah Yogyakarta namun obyek wisata ini merupakan objek wisata yang wajib dikunjungi sebelum pergi ke Yogyakarta.

B.    Saran
Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:
1.    kita sebagai generasi muda harus menjadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2.    Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan budaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita
3.    Penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.





DAFTAR PUSTAKA

-    http://www.google.co.id
-    http://www.wikipedia.org






0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...